Panduan Dasar Perawatan Benih

 

Benih merupakan aset pertanian yang berharga, karena kualitas benih sebelum disemai akan menentukan kualitas dan hasil tanaman yang dihasilkannya.

Oleh karena itu, benih membutuhkan perlindungan untuk dapat menghasilkan kualitas yang baik. Banyak industri yang telah menerapkan perlindungan benih melalui berbagai metode salah satunya yaitu melalui perawatan benih.

Perawatan benih (Seed Protection)

Perawatan benih memiliki pengertian yaitu organisme biologis, nutrisi, pewarna atau bahan kimia yang digunakan secara langsung kepada benih untuk membantunya mengontrol berbagai jenis serangan hama, perkecambahan, dan membantu memperbaiki keseluruhan performa tanaman.

Perawatan benih yang paling lazim dilakukan yaitu dengan menggunakan beberapa bahan yang mengandung satu atau beberapa bahan aktif tambahan di dalamnya untuk memberikan perlindungan benih yang baik.

  • Fungisida memberikan perlindungan terhadap benih dengan cara memberikan pertahanan terhadap benih dari serangan penyakit fungi dan patogen.
  • Insektisida memberikan perlindungan terhadap benih dari serangga yang ada di tanah dan larva serangga serta menyediakan pembenihan dengan perlindungan yang lebih awal dari serangan serangga dan larvanya.
  • Bahan aditif membantu tanaman tetap sehat pada awal musim dengan beberapa kondisi lingkungan tertentu. Bahan aditif yang digunakan seperti nematisida, inokulan, aditif alir, aliran aditif, biostimulan, nutrisi, dan inokulan.
  • Peningkatan benih membantu meningkatkan fungsi benih dengan memberikan pewarna, pelapisan, dan pemolesan benih.

Alasan pengaplikasian perawatan benih secara langsung

Perawatan benih bertujuan untuk memberikan perlindungan terhadap benih dan biasanya dilakukan secara langsung terhadap benih yang diberi perawatan.

Pertama, peletakkan secara langsung terhadap benih merupakan metode yang efisien. Fungisida dan insektisida adalah yang paling dibutuhkan untuk memberikan perlindungan terhadap benih dan perkecambahan dan mencegah terjadinya kehilangan produk akibat aplikasi tidak langsung.

Kedua, penggunaan insektisida secara langsung pada benih memungkinkan produk untuk menghalangi serangga yang menyebabkan terjadinya kerusakan di awal yang akan sangat merugikan para petani.

Beberapa perawatan benih menciptakan zona proteksi atau perlindungan sekitar benih dan tanaman muda. Perawatan benih dengan cara lainnya bersifat sistematis dan berjalan di dalam tanaman untuk diberi perlindungan.

Hal wajib yang harus ada dalam program perawatan benih

Perlindungan benih dengan cara biologis membutuhkan beberapa hal yang harus dipersiapkan seperti formulasi larutan bahan aktif dan juga peralatan lainnya.

Fungisida

Fungisida merupakan bahan perawatan biologis pertama yang sering digunakan oleh para petani untuk memberikan perlindungan terhadap benih.

  • Fludioxonil digunakan untuk melindungi tanaman dari fusarium dan rhizoctonia
  • Tebuconazole digunakan untuk melindungi tanaman dari fusarium
  • Metalaxyl digunakan untuk melawan phytopthora dan pythium
  • Thiabendazole digunakan untuk membantu mengatur kematian mendadak akibat sindrom kacang kedelai
  • Azoxystrobin untuk pertahanan tanaman dari phytium dan rhizoctonia
  • Pyraclostrobin dapat digunakan untuk jangkauan yang lebih luas
  • Ipconazole dapat digunakan untuk perlindungan tanaman dari penyakit tanah dan penyakit benih

Insektisida

Insektisida merupakan bahan perawatan biologis kedua yang sering digunakan oleh para petani untuk memberikan perlindungan terhadap benih.

  • Imidacloprid digunakan sebagai insektisida dengan spektrum yang luas untuk meminimalisir kerusakan dari penyakit tanah serangga.
  • Fumigan fosfin digunakan sebagai insektisida untuk membasmi hama serangga kutu tikus selama penyimpanan benih sampai ke fase telur kutu. Fumigan fosfin berbentuk tablet yang banyak digunakan oleh pabrik penyimpanan benih adalah merk FUMIPHOS 56 TB, sedangkan untuk fumigasi fosfin dalam waktu cepat dan sekaligus menjaga kesegaran benih adalah FUMILIKUID 2 GA.
  • Clothianidin digunakan untuk mengontrol sejumlah serangga yang sering ditemukan pada tanaman jagung.
  • Thiamethoxam digunakan untuk membantu mengontrol kutu busuk, kumbang kutu, dan cacing potong hitam.

Jumlah bahan aktif yang dibutuhkan

Penggunaan metode biologis untuk perlindungan benih harus memperhatikan jumlah bahan aktif yang digunakan. Pada kebanyakan industri menggunakan insektisida dengan sebutan “250 rate”.

Ada juga industri lain yang menggunakan tipe 1250 rate untuk menghadapi situasi yang ekstrim seperti adanya penyakit akar ulat pada tanaman jagung atau kutu tagihan, namun jika Anda tidak mengalami kasus serupa, maka sebaiknya gunakan tipe standar saja.

Perlindungan benih dengan melakukan perawatan benih secara biologis dapat membantu Anda memitigasi risiko dan memastikan tanaman mendapatkan kebutuhan terbaiknya untuk tumbuh, namun kelemahan dari metode perawatan biologis ini terletak pada sejumlah biaya yang harus dikeluarkan.