Persiapan Mengikuti Program Bayi Tabung

 

Persiapan untuk melahirkan bagi seorang istri atau calon ibu memanglah membutuhkan rencana yang sangat matang, hal ini juga dilakukan demi keselamatan ibu beserta bayinya. Begitu pun persiapan melahirkan dengan metode program bayi tabung. Sebenarnya, proses persalinan bayi tabung sama saja dengan proses melahirkan normal. Perbedaan diantara keduanya ialah hanya ada pada proses pembuahannya saja, dimana kelahiran yang normal, pembuahan terjadi di dalam rahim. Bayi tabung sendiri merupakan istilah yang digunakan untuk bayi yang diperoleh dari proses pembuahan sel telur dan sel sperma di luar rahim, tepatnya pembuahan tersebut dilakukan di laboratorium, yang disebut juga dengan istilah in vitro fertilization (IVF). Pembuahan tersebut bertujuan untuk menciptakan embrio-embrio calon bayi. Dan dari sejumlah embrio tersebut, hanya embrio yang paling berkualitaslah yang akan ditransfer kembali ke dalam rahim sang ibu agar dapat tumbuh dan berkembang. Kegiatan bayi tabung ini, tidak hanya terjadi di Indonesia saja. Bahkan di seluruh dunia, telah ada ribuan program bayi tabung yang berhasil menjadi janin.

Bayi tabung menurut Aucky Hinting (pakar bayi tabung) merupakan salah satu metode alternatif untuk mendapatkan keturunan dengan cara memanfaatkan ilmu pengetahuan. Setiap pasangan yang melakukan program ini biasanya karena adanya hambatan untuk menghasilkan keturunan. Selain itu, hal yang seringkali menjadi perbedaan antara bayi tabung dan bayi pada umumnya ialah anak bayi tabung biasanya akan lahir prematur sehingga bobotnya pun akan lebih rendah. Oleh karena itu, persiapan melahirkan melalui program bayi tabung benar-benar harus matang karena memiliki kemungkunan risiko kesehatan yang bisa saja menyertai anak tersebut. Seringkali, hambatan yang terjadi pada pasangan yang susah memiliki anak ialah karena masalah kesuburan. Biaya program bayi tabung ini bida dibilang tinggi, sehingga biasanya, dokter akan menyarankan pemeriksaan terlebih dulu untuk menentukan besarnya peluang kehamilan dengan hubungan seksual sebelum melakukan program bayi tabung. Dokter juga dapat menyarankan penanganan lain dari masalah tersebut dan melihat hasilnya. Dan jika ternyata penanganan tersebut tidak berhasil, maka bayi tabung baru bisa menjadi opsi terakhir. Beberapa kondisi yang biasanya membutuhkan program bayi tabung, ialah:

  1. Suami yang spermanya kurang berkualitas hingga tidak menghasilkan sperma.
  2. Istri yang sedang mengalami masalah kesuburan.
  3. Istri yang tengah mengalami masalah struktural reproduksi, misalnya seperti saluran tuba yang tersumbat.
  4. Istri mempunyai cadangan ovarium yang rendah.
  5. Suami Istri yang didiagnosis tidak subur tanpa tahu penyebab yang jelas.
  6. Istri mengalami infertilitas yang disebabkan gangguan jaringan rahim.
  7. Istri yang berulang kali keguguran.
  8. Istri yang mempunyai gangguan hormon sindrom polikistik ovarium dimana berakibat menyebabkan ovarium membesar dengan timbulnya kista kecil di bagian luar.

Tujuan dari program bayi tabung ini sebenarnya yang paling utama ialah untuk menghasilkan bayi yang sehat serta terhindar dari komplikasi medis. Bagi seorang ibu yang akan hamil dengan cara normal, ia harus mempunyai sel telur yang berkualitas, dan sperma seorang ayah yang juga  harus berkualitas pada saat masa subur. Kemudian, sel sperma harus bertemu dengan sel telur yang berkualitas untuk pembuahan. Sehingga, saluran tuba pun harus terbuka. Rahim pun harus mampu unuk menjadi tempat bagi tumbuhnya embrio. Sehingga bagi pasangan suami-istri yang mempunyai hambatan dalam hal tersebut, program bayi tabung adalah salah satu pilihan yang bisa  mereka ambil. Selain persiapan yang matang, hal yang paling utama dalam melakukan program bayi tabung ialah menentukan rumah sakit serta dokter yang tepat.

Akan lebih baik jika memilih rumah sakit yang memiliki fasilitas khusus yang mendukung pelayanan program bayi tabung. Banyak orang yang mungkin bertanya-tanya mengenai status bayi yang berasal dari program bayi tabung. Apakah bayi tabung bisa dikatakan anak kandung? Pada dasarnya pembuahan sperma dan sel telur dalam melalui program bayi tabung merupakan milik suami istri yang sah, hanya saja pembuahannya dilakukan di luar rahim sang istri. Hal tersebut pun dilakukan karena para pasangan suami-istri tersebut sulit melakukan pembuahan di dalam rahim istri. Metode bayi tabung hanyalah sebuah bentuk bantuan pembuahan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan serta teknologi yang canggih. Hasil dari pembuahan tersebut pun pada akhirnya akan ditanamkan kembali ke dalam rahim istri dimana sel telur tersebut berasal. Oleh karena itu, bayi yang berasal dari hasil pembuahan melalui metode bayi tabung merupakan anak kandung dari suami istri itu sendiri.