Beberapa tahun lalu, saya pertama kali menginjakkan kaki di Bukit Merese. Saat itu, saya tidak punya ekspektasi yang terlalu tinggi. Hanya berpikir akan melihat pemandangan indah, lalu pulang. Tapi ternyata, Bukit Merese memberikan pengalaman yang jauh lebih kaya daripada sekadar foto-foto cantik. Ada cerita, pelajaran, dan momen-momen yang membuat saya semakin memahami keindahan dan pentingnya menjaga alam.
Bukit Merese berada di kawasan Mandalika, Lombok Tengah. Lokasinya tidak jauh dari Pantai Tanjung Aan, hanya beberapa menit berkendara. Begitu sampai di area parkir, dari kejauhan sudah terlihat bukit hijau membentang, seperti karpet alami yang mengundang siapa saja untuk mendaki.
Langkah Pertama Menuju Puncak
Jalan menuju puncak tidak sulit, tapi cukup membuat napas sedikit terengah. Sambil melangkah, saya melihat anak-anak lokal yang berlari-lari sambil menawarkan kelapa muda. Mereka tersenyum ramah, seakan ikut menyambut setiap tamu yang datang.
Di tengah perjalanan, saya sempat berhenti dan menoleh ke belakang. Laut biru terbentang luas, dengan perahu-perahu nelayan kecil yang tampak seperti titik-titik putih di permukaan air. Rasanya seperti melihat lukisan yang hidup.
Pemandangan 360 Derajat yang Sulit Dilupakan
Sampai di puncak, pemandangan yang saya lihat membuat semua rasa lelah hilang. Dari satu sisi, terlihat Pantai Tanjung Aan dengan pasir putihnya yang lembut. Dari sisi lain, terlihat tebing-tebing karang yang kokoh, dihantam ombak biru dari Samudera Hindia.
Banyak wisatawan memilih duduk diam di atas bukit, hanya untuk merasakan angin laut yang sejuk sambil menatap cakrawala. Tapi bagi saya, ada yang lebih menarik dari sekadar pemandangan. Bukit Merese ternyata menyimpan banyak cerita tentang alam, budaya, dan kehidupan masyarakat sekitar.
Unsur Edukasi dari Bukit Merese
Tidak banyak yang tahu bahwa kawasan Mandalika, termasuk Bukit Merese, memiliki keanekaragaman hayati yang unik. Jika datang di musim hujan, bukit ini akan dipenuhi rerumputan hijau yang menjadi rumah bagi berbagai serangga dan burung kecil. Beberapa kali, saya melihat burung pipit beterbangan, seolah sedang bermain di udara.
Selain itu, area di sekitar Bukit Merese juga menjadi contoh ekosistem pesisir yang sehat. Pantai di bawah bukit adalah tempat tumbuhnya berbagai jenis rumput laut yang dibudidayakan oleh warga lokal. Rumput laut ini kemudian diolah menjadi produk makanan atau kerajinan yang menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat.
Bagi yang membawa anak-anak, Bukit Merese bisa menjadi ruang belajar alam terbuka. Anak-anak bisa diajak mengamati bentuk garis pantai, memahami pasang surut air laut, atau sekadar belajar menghargai kebersihan lingkungan.
Cerita dari Warga Lokal
Salah satu pengalaman terbaik saya di sini adalah berbincang dengan seorang bapak penjual kelapa di kaki bukit. Ia bercerita bahwa dulunya kawasan ini tidak seramai sekarang. Hanya beberapa wisatawan yang datang, biasanya fotografer atau pecinta alam. Tapi sejak Mandalika mulai dikenal dunia, Bukit Merese ikut menjadi sorotan.
Bapak itu juga menceritakan bagaimana ia mengajarkan anak-anaknya untuk tidak membuang sampah sembarangan dan selalu menjaga keramahan terhadap tamu. Baginya, keindahan alam akan selalu menjadi daya tarik utama Lombok, dan tugas mereka adalah menjaganya.
Waktu Terbaik Berkunjung
Menurut saya, waktu terbaik untuk menikmati Bukit Merese adalah menjelang matahari terbenam. Langit akan berubah warna menjadi oranye keemasan, dan sinar matahari yang memudar membuat lautan terlihat berkilau. Namun, pagi hari juga tak kalah menarik, terutama jika ingin menghindari keramaian dan merasakan udara yang lebih segar.
Jika ingin menjelajah dengan santai dan efisien, menyewa kendaraan dengan pengemudi lokal bisa menjadi pilihan terbaik. Saya sendiri memilih sewa mobil Lombok driver agar bisa fokus menikmati perjalanan tanpa harus repot mengatur rute atau parkir. Supir lokal biasanya juga punya banyak cerita dan tips tempat makan enak di sekitar Mandalika.
Menyatukan Wisata dan Edukasi
Yang membuat Bukit Merese istimewa adalah kemampuannya menggabungkan dua hal—rekreasi dan edukasi—dalam satu tempat. Kita bisa tertawa bersama teman-teman sambil berfoto, tapi juga pulang dengan wawasan baru tentang ekosistem pesisir, budaya setempat, dan pentingnya menjaga alam.
Banyak sekolah dan komunitas di Lombok mulai menjadikan Bukit Merese sebagai destinasi wisata edukatif. Mereka mengajak siswa untuk belajar di alam terbuka, memahami sejarah kawasan Mandalika, dan ikut serta dalam kegiatan bersih-bersih pantai.
Tips Agar Kunjungan Lebih Berkesan
Berdasarkan pengalaman saya, ada beberapa tips yang bisa membuat kunjungan ke Bukit Merese semakin berkesan:
- Gunakan alas kaki yang nyaman karena jalur menuju puncak cukup menanjak.
- Bawa air minum sendiri agar tetap segar selama perjalanan.
- Jangan lupa membawa topi atau kacamata hitam untuk melindungi diri dari sinar matahari.
- Simpan sampah di tas dan buang di tempat yang disediakan.
- Luangkan waktu untuk mengobrol dengan warga lokal, karena sering kali mereka punya cerita menarik yang tidak akan kita temukan di internet.
Bukit Merese bukan sekadar bukit biasa. Ia adalah perpaduan antara keindahan alam, kekayaan budaya, dan nilai-nilai edukasi yang bisa membuat siapa saja jatuh cinta. Setiap kali saya kembali, selalu ada hal baru yang saya temukan—entah itu sudut pandang pemandangan yang berbeda, cerita warga yang menginspirasi, atau sekadar momen hening yang memberi ketenangan.
Bagi siapa pun yang berkunjung ke Lombok, saya sangat merekomendasikan menyempatkan waktu ke Bukit Merese. Dan jika ingin perjalanan yang lancar dan penuh cerita, menggunakan jasa pengemudi lokal akan membuat pengalaman menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Karena pada akhirnya, perjalanan terbaik bukan hanya soal tempat yang kita kunjungi, tapi juga tentang bagaimana kita merasakannya.